Fagil Sebongkah malam
rasuk lelehan dadaku tanak di
katup denggam
burai celoteh tak kuasa
tembus kedap diam menopang hampa.
Aku mengapung...
Malu pada hampar gurun
kerikil jalanan yang tertawa
gugat anguh mortalku
Sapa seribu guntur pecah di
pekarangan belakang
memanggilmanggil rindu
sedu sesamar tirai debu
di nyala lampu.
"Bangun..." bisiknya belai mataku.
"Bangunlah dari serpihan kenang berserak angan... biar segala anjak selesaikan lingkarnya."
Aku dongak menjawab
tatap guntur pantik kembara kenang
di keteraturan cahaya
menari dengan indahnya dalam
ritme deru air yang menghambur muai di
pesisir angin
Hempas benak dan setiap getar
yang riak terserap oleh hadirku disini.
Setets remah senyum lolos
diantara tangisku yang manusia,
akui nyata senyap tawa kerikil
itu masih akan bergema seribu tahun lagi. Saat jasadku lebur dalam selisip bumi.
Kebesaranku hanyalah sebutir debu.
DUM VITA EST SPES EST