<body><script type="text/javascript"> function setAttributeOnload(object, attribute, val) { if(window.addEventListener) { window.addEventListener('load', function(){ object[attribute] = val; }, false); } else { window.attachEvent('onload', function(){ object[attribute] = val; }); } } </script> <div id="navbar-iframe-container"></div> <script type="text/javascript" src="https://apis.google.com/js/platform.js"></script> <script type="text/javascript"> gapi.load("gapi.iframes:gapi.iframes.style.bubble", function() { if (gapi.iframes && gapi.iframes.getContext) { gapi.iframes.getContext().openChild({ url: 'https://www.blogger.com/navbar/7178237?origin\x3dhttp://yumenonaka.blogspot.com', where: document.getElementById("navbar-iframe-container"), id: "navbar-iframe" }); } }); </script>
Thursday, March 31, 2005
katamu tanpa syarat namun desis gunjing masih nyaring dibawa gelombang. berteru tak luluh di daun ranggas dan ranting ranting. memangku cair mengapung pulang naik turun turunan.Sketsa sketsa yang sesaat melarikanku dari keresahan tulisan tulisan kata yang tak kunjung berbunyi.
katamu tanpa syarat namun kutipan agas masih menyerang. lagi debu kembali selip dan jalanjalan kota menghilang. Mereka jadi warna, jadi belai nyala yang menyisir gerai gerai rambut menitip debu waktu yang tak mau hilang ketika dicuci. menggugat berkali untuk dikenang lagi.
katamu tanpa syarat namun hanya seperti wanita. wanita dan berat badannya.

Wednesday, March 30, 2005
Demi pemuda yang didewasakan wangi embun dan petir badai.

Dimatamu terlipat peta; aku menitinya berbekal obor rindu dan sekompas rasi bintang. Mengamati guratanguratan pedih yang pernah dititipkan sejarah di punggungmu, tapi senyum itu tak pernah luntur. Kekal. Milikku.

Malam ini gerak angin tak menentu tapi kujaga nyala api ini ditanganku; agar tak pekat ruang hati. agar tak padam mimpi. agar tak mati.



Seribu guntur bersahutan dibelakang tapi yang kulihat hanya bisikbisikmu. Tentang ladang bunga, sepasang kupu-kupu dan puingpuing berserak yang kemudian kita susun bersama-sama. Juga tentang pelangi yang kau pisahkan warnanya menjadi pita-pita untuk rambutku.



Aku menemukan cermin dalam ceritamu tentang setetes anggur dan segelas air mata. Sebuah mesin waktu penghantar tawa dan imajinasi. Sebutir kenangan yang masih utuh dan tersimpan rapih, dikubur dalamdalam.



Aku datang bersama deru angin atau lewat udara yang menyesakkan dadamu.Aku hadir bersama terbitnya mentari atau lewat sinarnya yang menghangatkan gairahmu. Demi kau, pemuda yang didewasakan wangi embun dan petir badai. Jangan pernah ragu, karena tapak kaki kita adalah satu.
(untuk hshm, setiap hal memiliki pasangannya)

Friday, March 25, 2005
In dreams and and love.. there are no impossibilities. -H.G Wells

Wednesday, March 23, 2005
Silih berganti aroma bekelebat dihadapan tatap, tapi kutulis senyum mu sebagai warna yang hilang. Ketika itu.. lengkaplah khatulistiwaku di hujung senja.

Saturday, March 19, 2005
Painting artists are masters in intepretating the visible. Musicians, in intepretating the invisible. Poets... in intepretating both.

Wednesday, March 16, 2005
"I love those who can smile in trouble, who can gather strength from distress, and grow brave by reflection. 'Tis the business of little minds to shrink, but they whose heart is firm, and whose conscience approves their conduct, will pursue their principles unto death."- Leonardo Da Vinci, 1452 (in respect, AP)

My secret is fatally gorgeous..

Jangan mendekat.

Ada batas tipis antara sadarku dan aku.
Jangan melangkah lagi, cahaya condong sempurna melukis saku perjalanan cerita.
Tapi kau,... kamu berdiri disana dengan perahan peluh mencecap pahit, terus mendengus tak sabar membunuh perawanku yang nyaris koyak dalam sekap jemari jemari serakah.
Barangkali masih ada yang tersisa untuk ditulis sebelum dihapus bilas waktu yang tertinggal dan pena pena rindu yang terasah sedekapan jarak.
Kau mengiris sadarku perlahan, membuka luka luka basah dengan penuh menang, mabuk oleh curah kenang yang mengalir keluar dari nadiku yang paling dalam. H
anya aku yang tau hadirmu sengat racun yang menipu.
Barangkali juga sayap sayap itu sama sekali tak ada selain di pelabuhan bahasaku yang tergoda selalu ingin menghias tuturan cair tentang hari hari itu.



Jangan mendekat. Ada batas tipis antara sadarku dan aku.

Wednesday, March 09, 2005
Lines Written at the Grave of Alexandre Dumas
(Lines Written at the Grave of Alexandre Dumas)

Cemeteries are places for departed souls. And bones interred,Or hearts with shattered loves. A woman with lips made warm for laughter. Would find grey stones and roving spirits. Too chill for living, moving pulses . . .And thou, great spirit, wouldst shiver in thy granite shroud. Should idle mirth or empty talk. Disturb thy tranquil sleeping. A cemetery is a place for shattered loves. And broken hearts . . .Bowed before the crystal chalice of thy soul,I find the multi-colored fragrance of thy mind. Has lost itself in Death's transparency.Oh, stir the lucid waters of thy sleep. And coin for me a tale. Of happy loves and gems and joyous limbsAnd hearts where love is sweet!A cemetery is a place for broken hearts. And silent thought . . . And silence never moves, Nor speaks nor sings. -Gwendolyn B. Bennett(1902-1981). -The poem by Gwendolyn B. Bennett, Leonardo's famous artwork "Virgin of the Rocks", and Aeris’'sTheme off Final Fantasy 7 all try to depict the intertwining of purity/calmness amongst the center of a crisis.....A New Hope.

Saturday, March 05, 2005
Pecandu Lirik
Pecandu Lirik

Kadang aku tenggelam dalam gaung maya duniamu yang tak panjang hingga lupa bernafas, dibelai resonan imajinasi yang kosong namun tak hampa.
Dunia kecil juga ternyata saling menjawab saling bertarung saling menangis dan tertawa mengukir peta dari liriklirik yang tersembunyi dalam dada.
Menentang tiap baris keikhlasan ilahi, mengandung hidup dalam hidup dan infinit dalam batas.
Aku hanya bisa menulis diantara ambara gemawan yang benderang dengan usaha yang tak putus-putus menerjemahkan ribuan hantam buih ombak tanpa ampun..
Sampai Kapan?
Dikejauhan berbayang putusnya ari-ari bumi.
Debar demi debar telah pasang barangkali dalam dengkur api seperti aksara purba,
lalu selatan berubah utara dan bintang-bintang diusir pergi seiring setengah cahaya diberikan kembali.
Aku seperti seburai mimpi yang kehilangan dasar dalam sesergap kenang.

Thursday, March 03, 2005
Pagi ini
kematian berdiri disebelahku sambil menunggu tertib giliran lampu merah persimpangan jalan.
Diantara kerumun pengap tembikartembikar retak
hanya dia yang menyediakan udara dan menyapaku ramah,
meski cuma bertanya waktu lalu terbelah empat
dan mengapung ke segala penjuru.
Tidak, dia tidak datang untukku hari ini.
Masa jabatannya hampir usai,
dia hanya mengayak bintang yang perlu dikembalikan dari gunung ampas darah yang mengering di permukaan aspal.
Tapi ia sempat membelai rambutku,
sambil berkata mungkin kita tidak bertemu lagi.
Kalaupun ya, aku tak akan menyesal.
Semoga cahaya nadiku dianggap cukup layak untuk diberikan kembali.
Lalu.. tak ada lagi detik antara aku dan dia.

leave a tag
talk to me

Tagboard;will be added soon.

when i'm asleep
walk the streets alone

Kutemukan sekeping cahaya dalam setiap sel darah manusia yang hidup. Sekeping cahaya yang tak dapat dimengerti, hanya dinikmati.


neighbours
meet others

Link


encores
reverse fast forward

October 2004
November 2004
December 2004
January 2005
February 2005
March 2005
April 2005
May 2005
June 2005
July 2005
August 2005
September 2005
October 2005
December 2005
April 2006
May 2006
July 2006
March 2007

credits etc.