Kutidurkan dia diantara dua susuku.
Bertubi-tubi detik papas di hadapan mata terasa sayang untuk tidak diabadikan
Napasnya ranum meski deru berdetik waktu yang lebih deras dari degub kecilku
Ada rindu yang memabukan dalam tiap helai rambutnya yang mengandung cerita kerajaan seribu raja-raja dunia yang tumbang
Ketika senyap menghembuskan alunan nada mutiara terjadinya kita.
Kekasih di suatu waktu menyusuri tebasan jalan rimba yang tak lagi perawan
Tetap mengerti bagaimana waktu menggerus simpul demi simpul kilau temu
di tiap sulaman napasnya yang genap