Demi pemuda yang didewasakan wangi embun dan petir badai. Dimatamu terlipat peta; aku menitinya berbekal obor rindu dan sekompas rasi bintang. Mengamati guratanguratan pedih yang pernah dititipkan sejarah di punggungmu, tapi senyum itu tak pernah luntur. Kekal. Milikku.
Malam ini gerak angin tak menentu tapi kujaga nyala api ini ditanganku; agar tak pekat ruang hati. agar tak padam mimpi. agar tak mati.
Seribu guntur bersahutan dibelakang tapi yang kulihat hanya bisikbisikmu. Tentang ladang bunga, sepasang kupu-kupu dan puingpuing berserak yang kemudian kita susun bersama-sama. Juga tentang pelangi yang kau pisahkan warnanya menjadi pita-pita untuk rambutku.
Aku menemukan cermin dalam ceritamu tentang setetes anggur dan segelas air mata. Sebuah mesin waktu penghantar tawa dan imajinasi. Sebutir kenangan yang masih utuh dan tersimpan rapih, dikubur dalamdalam.
Aku datang bersama deru angin atau lewat udara yang menyesakkan dadamu.Aku hadir bersama terbitnya mentari atau lewat sinarnya yang menghangatkan gairahmu. Demi kau, pemuda yang didewasakan wangi embun dan petir badai. Jangan pernah ragu, karena tapak kaki kita adalah satu.
(
untuk hshm, setiap hal memiliki pasangannya)