Jangan mendekat.
Ada batas tipis antara sadarku dan aku.
Jangan melangkah lagi, cahaya condong sempurna melukis saku perjalanan cerita.
Tapi kau,... kamu berdiri disana dengan perahan peluh mencecap pahit, terus mendengus tak sabar membunuh perawanku yang nyaris koyak dalam sekap jemari jemari serakah.
Barangkali masih ada yang tersisa untuk ditulis sebelum dihapus bilas waktu yang tertinggal dan pena pena rindu yang terasah sedekapan jarak.
Kau mengiris sadarku perlahan, membuka luka luka basah dengan penuh menang, mabuk oleh curah kenang yang mengalir keluar dari nadiku yang paling dalam. H
anya aku yang tau hadirmu sengat racun yang menipu.
Barangkali juga sayap sayap itu sama sekali tak ada selain di pelabuhan bahasaku yang tergoda selalu ingin menghias tuturan cair tentang hari hari itu.
Jangan mendekat. Ada batas tipis antara sadarku dan aku.