Hadirmu menjulang lekat, menawarkan mimpi dan air mata bersama jarak. Aku tak akan lelah memuja-mujamu. Detik-detik buru berlalu , kupilih tuk tetap tinggal di masa lalu. bayang-bayang umur tiba kian lalu membusuk,kau tetap disitu . Kadang dalam renunganku ku bertanya kapan batas hidup akan mengaburkanmu. Sosokmu tetap tegak, berdiri menantang sajak. Hingga kini, puisiku diukir dengan darah. Kau terlarang. Batas dosaku yang manusia meleleh di ujung bibirmu.
Aah..seandainya kau milikku. tidak, bukan itu. Seandainya.. Waktu memihakku sekali ini saja.