JasmineTerpaku pada sunyi hadir butir-butir bunga tanah atas nama satu; Melati.
Di waktu ambang setengah tak henti, aku malu oleh maha kilaunya yang esa.
Raja-raja zaman pun tak ada yang semegah kelopak-kelopak air melati mulia di ujung bumi.
Layang angin membawa parade musik wangi manis menyengat.
Terlalu dingin tubuhku tuk dianggap bernyawa dihadapannya.
Terlalu tipis udaraku tuk bermalas di sela mahkotanya.
Waktu merambat, lapat, membantunya abadi sambil membuatku tua sehari lagi.
Silau kau, melati.. menoreh tiraiku yang memang sudah koyak. Cakrawala itu sendiri yang akan membuka kisahnya. Ia hidup dalam darah ksatriaku. Hingga hamparan melati yang telah mulia menggugurkan kelopaknya...
Aku mengerti.
Senyumku menyertaimu.