Kujenguk lagi senja itu pada lembaran diariku
aku telah lupa, dimanakah matahari
melempar senyumnya terakhir itu hari
saat kita cairkan canggung
pertemuan pertama dengan puisi.
Di sudut kota ini
di mulut gang yang luber buku
keringatmu ramah menyambut cuaca
mengabarkan satu perjalanan rahasia.
Bagiku
wajahmu adalah puisi yang lain
yang tersipu bagai desir angin.
-Agus Manaji, Maret 2004