<body><script type="text/javascript"> function setAttributeOnload(object, attribute, val) { if(window.addEventListener) { window.addEventListener('load', function(){ object[attribute] = val; }, false); } else { window.attachEvent('onload', function(){ object[attribute] = val; }); } } </script> <div id="navbar-iframe-container"></div> <script type="text/javascript" src="https://apis.google.com/js/platform.js"></script> <script type="text/javascript"> gapi.load("gapi.iframes:gapi.iframes.style.bubble", function() { if (gapi.iframes && gapi.iframes.getContext) { gapi.iframes.getContext().openChild({ url: 'https://www.blogger.com/navbar/7178237?origin\x3dhttp://yumenonaka.blogspot.com', where: document.getElementById("navbar-iframe-container"), id: "navbar-iframe" }); } }); </script>
Thursday, May 12, 2005
Narasi Chandika
Narasi Chandika



Hanya butuh sekilas tengadah dan aku langsung menemukanmu.

Tubuhku ingat hangat hadirmu, senyum merebak tanpa izin seraya kau mendekat.

Kita duduk di café terdekat sekadarnya, bersenda gurau selepasnya, pelayan mendekat mengantar pesanan yang sama; sepotong cheesecake dan aqua dingin.



Aku tak mengira aku bisa sangat menikmati sepotong kue seperti ini. Apa mungkin karena kau? Celotehmu begitu ringan dan gembira berbagi keping-keping perjalanan yang jadi bagian dirimu yang utuh. Sesaat kejap dunia berlalu diluar aku dan kamu, silih berganti menukar detik demi detik.

Namun jangan ambil detikku.. jangan yang ini..Biar aku menyimpannya.



Kadang ku tenggelam bersama alun suaramu meski penjara tetap sembunyi di balik tata krama dan batas moral, enggan akui hanyut arus garis resonansi tatapmu.


Riak gelombang tetas mendesir berulang kali bergaung sama; Rindu.

Disekitarmu kata-kataku berubah puisi. gelisahku jadi senandung dewa. Catatan seuntai mimpi telah tumpah nyenyak doa yang tak kasat mata.


Nada-nada hadirmu sejalan aksara. Selaput beku dini hari meleleh di dapur-dapur dada yang mengepul.

Bolehkah aku diam-diam kagum padamu? Jika kuberjanji tak kan menyentuhmu, bolehkah kubalut rahasia-rahasia semesta pada tepi kulit arimu?



Ada sekelebat kebanggaan yang membuatku terlalu angkuh untuk mengakui lututku yang lemas di arus pusaran adamu. Pengakuanku diam-diam menjarah sadarku dan hanya kamu yang tidak akan mentertawakan cinta.



Aku pernah tak ingin dewasa. Ketika itu yang kutuduhkan sebagai jawab alasan segala kebodohan dan lemahku.

Sekejap mata akhirnya berlalu dan hari kita mesti berakhir seperti tak perduli sangkalanku. Aku pernah kehilangan cinta.Rapuhku tak mampu lagi kehilangan sahabat. Hari ini, tata krama jadi musuhku.



Sosokmu menjauh seraya kau berbalik pergi. Airmataku sudah menguap sebelum sempat menetes dibalik sejuta topeng kemapanan.



lalu aku masih saja terjaga

menghirup bara disonansi dengungmu

di sudut keterasingan yang bukan aku



Selamat jalan, sahabat. Ya kutahu kita pasti berjumpa lagi, mungkin diatas sepotong cheesecake dan aqua dingin..? disuatu saat narasi chandika berakhir.

leave a tag
talk to me

Tagboard;will be added soon.

when i'm asleep
walk the streets alone

Kutemukan sekeping cahaya dalam setiap sel darah manusia yang hidup. Sekeping cahaya yang tak dapat dimengerti, hanya dinikmati.


neighbours
meet others

Link


encores
reverse fast forward

October 2004
November 2004
December 2004
January 2005
February 2005
March 2005
April 2005
May 2005
June 2005
July 2005
August 2005
September 2005
October 2005
December 2005
April 2006
May 2006
July 2006
March 2007

credits etc.