kunang-kunang mengapung
membakar awan, menggantung
menggelisah rundung requiem di kejauhan yang merapat jelang, karam, lenyap, tetapi tak jengah setia menetes-netes indah.
Alun desah suara rendahmu menyelisip halaman-halaman waktu dan aku kembali bersembunyi dalam puisi pusar manik kuarsa, menghujan asin di gelas teh hangat malam