Wajahnya
Tersipu bagai desir angin menggoda
Jalanan memutih, sepeti ujung mata. Menyelinapi marka-marka.
Aku mencintainya. Mencintai rambut ikalnya. Mencintai suaranya. Mencintai gelak tawa dan sorot matanya yang begitu tegas dan lihai menyusupi otak kiriku dan segera aku banting stir ke kanan.
Sia-sia.