Aku langsung mengenalimu dari nafas itu. Nafas yang sejuk dingin sesejuk nafas terakhir seorang perempuan sebelum tangisnya terhenti. Sebab dari kesadaran itulah engkau terlahir, hingga kau seperti langit musim yang selalu berakhir. Bergerak seperti gerimis dan pergi sehalus embun yang sesaat saja lalu tiada.
Kita berdua serpih tak lengkap yang terjatuh dari mereka. Manusia yang terguncang sedemikian atau tertumbuk bentur dan termemar hingga melelehkan sadarnya keluar berceceran. serupa jerit, rintih atau darah, liur, mani ataupun peluh. Kita lahir oleh pecah-pecah kesadaran yang begitu kuat yang sanggup melampaui jasad retak, Kau beranjak dan membeku setipis nafas sejuk dingin dan gerimis. Aku hanya membatu serupa segala yang padam dan mati bertubi.
-Cecil Mariani